Tiga Legenda Kung fu

Posted on Updated on

Kombinasi ilmu pengobatan Tiongkok tradisional dan teknik beladiri yang berpadu dengan olah keluhuran budi membuat keluarga Wong banyak turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Banyak diantara pasiennya yang meminta bantuan pengobatan berasal dari kalangan miskin tetapi mereka tetap membantu dengan sungguh-sungguh. Selain itu, secara diam-diam keluarga Wong juga turut aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’ing yang korup dan menindas rakyat.

1. Wong Fei-Hung

ada yg bisa terjemahin, …. ini tulisan apa?

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak perjumpaannya dengan guru ayahnya bernama Luk Ah-Choi yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar. Jurus ini ditemukan, dikembangkan dan menjadi andalan Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah pendekar dari Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintah pendudukan Manchuria (Dinasti Ch’ing) pada 1734. Dengan kepemimpinan Hung Hei-Kwun inilah, para pejuang pemberontak hampir mengalahkan dinasti penjajah jika saja pemerintah tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang).

Wong Fei-Hung kemudian meneruskan belajarnya pada ayahnya sendiri hingga kemudian pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan cakar macan dan pukulan khusus sembilan. Selain dengan tangan kosong, ia juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat setempat pernah menyaksikan bagaimana ia seorang diri dengan hanya bersenjatakan tongkat (toya) berhasil mengalahkan 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia mau membela rakyat kecil yang akan mereka peras.

Dalam awal kehidupan berkeluarganya, Tuhan mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek, lalu ia memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan pasangan hidupnya yang terakhir bernama Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga sangat ahli beladiri. Mok Gwai Lan pun turut mengajar beladiri pada kelas perempuan di perguruan suaminya. Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal.

2. Yip Man

Ip Man (Yip Man) adalah seorang legendaries kungfu yang beraliran Wing Chun. Dia telah mempelajari Wing Chun sejak umur 13 tahun. Menurut Wikipedia, Yip Man adalah Master Kungfu (Sifu) pertama yang mengajari Wing Chun secara terbuka untuk umum.

Yip Man lahir di Foshan tahun 1893 dari keluarga pedagang yang kaya, di umurnya yang ke-13 Yip belajar Wing Chun dari Chan Wah-Shun dan di teruskan oleh Ng Chung-sok sesuai pesan Chan sebelum meninggal.

Umur 16, Yip meneruskan studinya di St. Stephen’s College, Hongkong, dimana sekolah tersebut diperuntukan orang-orang kaya dan orang asing di Hongkong.

Di sekolah ini Yip mulai dikenal sejak mengalahkan murip senior dengan beberapa gerakan kecil saja. Di umurnya ke-24 Yip kembali ke Foshan, dengan ilmu Wing Chunnya yang maju pesat, Yip tidak mendirikan sekolah ataupun perguruan disana, hanya mengajarkan kepada beberapa murid dan relasinya saja. Di masa kependudukan Jepang di China, Yip selalu menolak semua ajakan pemerintah Jepang agar Yip mau mengajari pasukan jepang bela diri.

Yip lalu kembali ke Hongkong dan mendirikan sebuah perguruan bela diri, Hampir semua bekas murid Yip menjadi orang terkenal, berhasil mendirikan perguruannya sendiri, menjadi pengatur bela diri dalam sebuah film atau bahkan bintang laganya sendiri, dan yang paling terkenal dari murid-murid Yip adalah Lee Xiao Long atau Bruce Lee.


yip man & bruce lee

2 Desember 1972, Yip meninggal di karenakan kanker, tetapi hasil ilmu bela diri yang di ajarkannya, Wing Chung telah menyebar ke segala penjuru dunia.

3. Huo Yan Jia

Huo Yanjia lahir di Tianjing, 1868 pada masa akhir dinasti Qing. Meskipun lahir dari keluarga tradisional Wushu, Huo Yuanjia lahir lemah dan rentan terhadap penyakit (pada usia dini dia menderita penyakit kuning dan asma), karena ini ayahnya menolak mengajarkan tradisional wushu kepada Huo. Namun begitu Huo mengamati diam-diam ayahnya ketika mengajari murid-muridnya berlatih bela diri dan mempraktekannya sendiri pada malam harinya. (bener-bener kek film-film kungfu) Grin

Di tahun 1890, keluarganya di kunjungi oleh seorang petarung dari Henan dan menjajal saudara tertua dari Huo YanJia, dimana kakak tertua Huo dikalahkan oleh petarung ini. Secara mengejutkan Huo menantang petarung tersebut dan berhasil mengalahkannya. Sejak itulah Huo di angkat murid oleh ayahnya. Setelah peristiwa itu, Huo banyak mendapat banyak tantangan dari daerah-daerah tetangganya dan berhasil mengalahkan setiap tantangan, nama Huo semakin terkenal. Nama Huo terus semakin terkenal setelah dia juga mengalahkan seorang kepala bandit yang menyerah kelompok biksu.

Huo juga di kabarkan menerima tantangan dari pegulat Rusia dan petinju Inggris.
Tahun 1909 Huo Yuanjia mendirikan Chin Woo Fisik Training Center (yang kemudian dikenal sebagai Chin Woo Athletic Association) di Shanghai dan di dukung oleh teman-teman dekatnya di antaranya adalah Sun Yat Sen.

Seorang dokter dari perkumpulan judo Jepang di Shanghai yang mengetahui penyakit Huo (penyakit kuning dan juga TBC) mengundangnya dalam sebuah kompetisi. Huo mengirimkan muridnya Liu Zhensheng, walaupun tidak di umumkan siapa pemenangnya, perkumpulan judo Jepang mengakui bahwa banyak yang terluka dalam kompetisi ini, bahkan kepala instrukturnya sendiri juga terluka.

9 Agustus 1910, Huo meninggal dunia. pada tahun 1989 pemerintah Tianjin memindahkan makamnya, di temukan bintik-bintik hitam di tulang punggungnya dan bukti lab mengatakan bahwa itu adalah hasil daripada racun yang ada di tubuh Huo. ini menguatkan rumor bahwa Huo di bunuh menggunakan racun. (src: bluefame.com)